Rabu, 28 Juni 2017

Resep rosululloh meluluhkan kerasnya hati

Pernahkah Anda terbukti bersalah namun sukar sekali mengeluarkan minta maaf? Alasannya: orang yang dimintai maaf lebih muda dari kita, lebih miskin dari kita, atau status jabatannya lebih rendah dari kita. Jika kita penah mengalami demikian atau menyaksikan orang yang berperilaku begitu, yang bersangkutan sesungguhnya telah mengidap penyakit hati yang keras.

Surat Al-Baqarah ayat 67-74 mengambarkan kondisi penyakit tersebut ketika mengisahkan tentang Bani Israil. Mereka dilukiskan sebagai orang-orang yang sulit menerima kebenaran meskipun bukti nyata telah hadir di depan mata. Hati mereka mengeras seperti batu, bahkan bisa lebih keras lagi.

Penyakit ini susah disembuhkan karena yang mesti dihadapi penderitanya adalah dirinya sendiri. Egoisme, gengsi, atau perasaan paling istimewa, biasanya menjadi biang keladi mengapa hati seseorang membatu sehingga sukar dimasuki kebenaran dan kebaikan yang datang dari luar dirinya. Namun, susah disembuhkan bukan berarti tidak bisa diobati. 

Suatu hari seorang laki-laki datang mengadu kepada Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wasallam tentang hatinya yang keras (qaswatul qalb). Nabi menjawab:

إن أردت تلين قلبك، فأطعم المسكين، وامسح رأس اليتيم

Artinya: “Jika kamu ingin melunakkan hatimu maka berilah makan orang miskin dan usaplah kepala anak yatim.” (HR al-Hakim dalam al-Mustadrak)

Dalam hadits tersebut, Rasulullah menganjurkan orag yang keras hatinya untuk melatih diri berempati dengan orang-orang lemah. Empati tersebut diwujudkan salah satunya dengan memberi makan orang miskin.

Makan adalah di antara kebutuhan primer (hâjiyât) setiap manusia. Penghasilan orang miskin sering hanya bisa mencukupi keperluan pokok tersebut tanpa bisa menambah kebutuhan sekunder lainnya. Lebih dari miskin disebut faqîr. Keduanya merupakan kelompok rentan yang sama-sama membutuhkan uluran tangan.

Ibnu Rajab al-Hanbali saat menjelaskan hadits ini mengatakan bahwa bergaul dengan orang-orang miskin dapat meningkatkan rasa ridha dan syukur seorang hamba atas nikmat yang dikaruniakan oleh Allah. Sebaliknya, bergaul dengan orang kaya potensial membuatnya kurang menghargai rizeki yang diterimanya.

Selanjutnya adalah mengusap kepala anak yatim. Kata “mengusap” di sini merupakan kiasan dari anjuran untuk menyayangi, berlemah lembut, dan mengayomi mereka. Tentang hal ini, Nabi bersabda:

من مسح رأس يتيم أو يتيمة لم يمسحه إلا لله ، كان له بكل شعرة مرت عليها يده حسنات ، ومن أحسن إلى يتيمة أو يتيم عنده ، كنت أنا وهو في الجنة كهاتين ، وقرن بين أصبعيه

“Barangsiapa yang mengusap kepala anak yatim laki-laki atau perempuan hanya karena Allah, baginya setiap rambut yang diusap dengan tangannya itu mengalirkan banyak kebaikan, dan barangsiapa berbuat baik kepada anak yatim perempuan atau laki-laki yang dia asuh, aku bersama dia di surga seperti ini (Nabi menyejajarkan dua jarinya).”

Dalam hadits itu, Allah memberikan kebaikan kepada orang-orang yang mengusap kepala anak yatim. Jumlah rambut di hadits ini merupakan ilustrasi dari kebaikan yang tak terhitung sebagaimana tak terhitungnya jumlah rambut kepala orang. Artinya, sebanyak apa kebaikan seseorang kepada anak yatim, sebesar itu pula Allah berikan kebaikan kepadanya. Inilah mengapa hati yang keras menjadi mudah melunak, terbuka terhadap kebenaran dan kebaikan. Sebab, Sang Penguasa Hati sedang berada di pihaknya. Wallah a’lam. 

Selasa, 27 Juni 2017

Kisah imam besat

Majelis Adl Dliyaaul Laami 'Jombang

IMAM Fakhruddin al-ARSABANDI dari ta'limul mutaalim 
KAROMAH BISA DIPEROLEH DENGAN CARA MEMULYAKAN GURU 
--------- 
tersebutlah seorang ulama yang disegani bahkan oleh penguasa ketika itu. Ini adalah Fakhruddin al-Arsabandi. Dalam ketenarannya, ia mengungkap sebuah rahasia atas rahmat Allah yang luar biasa didapatkannya. "Aku mendapatkan posisi yang mulia ini karena melayani (melayani) guruku," ujar sang Imam. 
Ia menuturkan, layanan yang dia berikan kepada gurunya sungguh luar biasa. Gurunya Imam Abu Zaid ad-Dabbusi benar-benar dilayaninya bak seorang budak kepada majikan. Ia pernah memasakkan makanan untuk gurunya selama 30 tahun tanpa sedikit pun mencicipi makanan yang disajikannya. 
Begitulah cara orang-orang terdahulu mendapatkan keberkahan ilmu dari memuliakan gurunya. Mencintai ilmu berarti mencintai orang yang menjadi sumber ilmu. Menghormati ilmu berarti harus menghormati pula orang yang memberi ilmu. Itulah guru. Tanpa pengajaran guru, ilmu tak akan pernah bisa didapatkan oleh si murid. 
Dalam literatur pendidikan Islam, jelas terpampang bahwa pelajaran pertama yang diterima seorang murid adalah bab Adabu Mu'allim wa Muta'allim (adab antara guru dan murid). Dari kitab manapun, harus belajar dimulai dari bab ini. Si murid harus dipahamkan, dari siapa ia menerima ilmu karena dalam pembelajaran ilmu-ilmu Islam sangat memperhatikan sanad (validitas). 
Berbeda dengan sesuatu yang bersifat nasihat. Saran tak perlu memandang dari mulut siapa keluarnya nasihat itu. Berlakulah di sana pepatah Arab, unzur ma Qala wala tanzur man Qala (lihatlah apa yang dikatakan, jangan melihat siapa yang mengatakannya).Namun, bagi ilmu-ilmu Islam sejenis tafsir, hadis, akidah, dan cabang ilmu sejenisnya, perlu diperhatikan dari siapa si murid menerimanya. Inilah yang dipesankan Muhammad bin Sirin, "Sesungguhnya ilmu ini adalah agama. Maka lihatlah dari siapa kamu mengambil agamamu." 
Fakhruddin al-Arsabandi benar-benar memperhatikan sang guru sebagai tempat ia mengambil ilmu. Ia tak ubahnya seperti budak di hadapan gurunya. Hal yang sama juga ditunjukkan oleh Ali bin Abi Thalib RA yang pernah mengatakan, "Siapa yang pernah mengajarkan aku satu huruf saja, maka aku siap menjadi budaknya." 
Ali RA mencontohkan, sekecil apa pun ilmu yang didapat dari seorang guru tak bisa diremehkan. Imam Syafi'i pernah membuat rekannya terkagum-kagum karena tiba-tiba saja ia mencium tangan dan memeluk seorang pria tua. Para sahabatnya bertanya-tanya,"Mengapa seorang imam besar mau mencium tangan seorang laki-laki tua? Padahal masih banyak ulama yang lebih cepat dicium tangannya dari dia?" 
Imam Syafi'i menjawab, "Dulu aku pernah bertanya padanya, bagaimana mengetahui seekor anjing telah mencapai usia baligh? Orang tua itu menjawab," Jika kamu melihat anjing itu kencing dengan mengangkat sebelah kakinya, ia telah baligh. " 
Hanya ilmu itu yang didapat Imam Syafi'i dari orang tua itu. Namun, sang Imam tak pernah lupa akan secuil ilmu yang ia dapatkan. Baginya, orang tua itu adalah guru yang patut dihormati. Sikap tersebut pulalah yang menjadi salah satu faktor yang mengantarkan seorang Syafi'i menjadi imam besar. 
Lantas seperti apakah penghormatan para siswa saat ini kepada guru mereka? Petuah ilmu yang diberikan guru hanya bak angin lalu. guru tak perlu didengarkan atau dituruti. Take it, or leave it. tak masalah jika tak menuruti perintah dari guru. Ibarat kata pepatah , "Anjing menggonggong, kafilah tetap berlalu." 
Mengapa para guru dipandang sedemikian rendah oleh anak bangsa saat ini? Mungkin, mereka tidak merasakan kebermanfaatan ilmu yang mereka pelajari. Atau, model pembelajaran yang tidak dimulai dari bab Adabu Mu'allim wa Muta'allim. Atau kesalahan juga ada pada guru yang punya orientasi materi. Ilmu hanya sebatas seremonial dan dihargai dengan uang. Semua bercampur aduk kemudian melahirkan sebuah model pendidikan yang rusak. 
Guru pada umumnya tidak meminta untuk dihormati oleh si murid. Namun, orang yang sadar bahwa dirinya seorang muridlah yang harusnya tahu diri untuk menghormati gurunya. Si murid harus memahami, tak ada kesuksesan yang ia raih tanpa ada peran seorang guru. Ia tak akan mampu melakukan apa pun, jika gurunya tak mengajarinya membaca. Ia pasti akan jauh dengan agama, jika gurunya tak mengenalkannya dengan karakter Alquran. 
Membalas kebaikan guru merupakan suatu kewajiban bagi murid. Sebagaimana yang diperintahkan Allah dalam firman-Nya, "Dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu." (QS al-Qashash [22]: 77). Seorang murid harus berpikir, ilmu yang bermanfaat yang diajarkan guru merupakan pahala yang tak pernah putus di sisi Allah. Ia akan terus mengalir kepada si guru selama ilmu tersebut terus diajarkan dan diamalkan. Itulah kewajiban si murid untuk mengembangkannya dan kemudian mengamalkannya. Agar si guru yang pernah mengajarkannya mendapatkan ganjaran pahala yang terus mengalir di sisi Allah ..

Sahabat Nabi SAW Paling Tampan

DIHYAH BIN KHALIFAH AL-KALBI RADHIYALLAHU ANHU, MALAIKAT JIBRIL MENJELMA DALAM RUPANYA

‘Awwanah bin al-Hakam berkata: “Manusia yang paling tampan rupanya, ialah seseorang yang Malaikat Jibril Alaihissallam datang dalam bentuk rupanya. Yakni Dihya.”[1]

Dihyah bin Khalîfah al-Kalbi Radhiyallahu anhu adalah salah satu di antara para sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang telah lama masuk Islam. Beliau masuk Islam sebelum perang Badar. Akan tetapi, dalam peperangan itu, beliau belum sempat mengikutinya. Baru, setelah peperangan itu, beliau tidak pernah absen dalam jihad di medan peperangan.[2]

Dia juga salah seorang sahabat Rasulullah yang masyhur. Dia dikaruniani Allah berupa keutamaan yang tidak dimiliki sahabat lainnya. Di antara keutamaan yang beliau miliki, yaitu Malaikat Jibril Alahissallamseringkali datang menemui Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam wujud menyerupai dirinya. Imam an-Nasaa`i meriwayatkan dengan sanad yang shahîh dari Yahya bin Ya’mur rahimahullah dari Ibnu ‘Umar Radhiyallahu anhuma :

كَانَ جِبْرَائِيْلُ يَأْتِيْ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلّمَ فِيْ صُوْرَةِ دِحْيَةَ الْكَلْبِيِّ.

Malaikat Jibril Alaihissallammendatangi Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallamdalam rupa Dihyah al-Kalbi.

Dalam hadits lain disebutkan:

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلّمَ قَالَ عُرِضَ عَلَيَّ الْأَنْبِيَاءُ فَإِذَا مُوسَى ضَرْبٌ مِنْ الرِّجَالِ كَأَنَّهُ مِنْ رِجَالِ شَنُوءَةَ وَرَأَيْتُ عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ عَلَيْهِ السَّلَام فَإِذَا أَقْرَبُ مَنْ رَأَيْتُ بِهِ شَبَهًا عُرْوَةُ بْنُ مَسْعُودٍ وَرَأَيْتُ إِبْرَاهِيمَ صَلَوَاتُ اللَّهِ عَلَيْهِ فَإِذَا أَقْرَبُ مَنْ رَأَيْتُ بِهِ شَبَهًا صَاحِبُكُمْ يَعْنِي نَفْسَهُ وَرَأَيْتُ جِبْرِيلَ عَلَيْهِ السَّلَام فَإِذَا أَقْرَبُ مَنْ رَأَيْتُ بِهِ شَبَهًا دَحْيَةُ ((مسلم الإسراء برسول الله صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلّمَ 1/395))

Dari Jâbir Radhiyallahu anhubahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata: “Telah diperlihatkan kepadaku para nabi, maka aku melihat Musa Alaihissallamadalah seorang laki-laki yang kuat, seakan-akan dia adalah lelaki dari kaum Syanû’ah. Dan aku melihat Isa bin Maryam Alaihissallam dan yang paling mirip dengannya di antara yang pernah aku lihat, adalah Urwah bin Mas’ud. Dan aku melihat Ibrâhîm Alaihissallam, dan yang paling mirip dengannya di antara yang pernah aku lihat ialah sahabat kalian –yaitu diri beliau sendiri– dan aku pun melihat Jibril Alaihissallam, dan yang paling mirip dengannya di antara yang pernah aku lihat adalah Dihyah”. [HR Muslim].

عن أَبي عُثْمَانَ قَالَ أُنْبِئْتُ أَنَّ جِبْرِيلَ عَلَيْهِ السَّلَام أَتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلّمَ وَعِنْدَهُ أُمُّ سَلَمَةَ فَجَعَلَ يُحَدِّثُ ثُمَّ قَامَ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلّمَ لِأُمِّ سَلَمَةَ مَنْ هَذَا أَوْ كَمَا قَالَ قَالَ قَالَتْ هَذَا دِحْيَةُ قَالَتْ أُمُّ سَلَمَةَ ايْمُ اللَّهِ مَا حَسِبْتُهُ إِلَّا إِيَّاهُ حَتَّى سَمِعْتُ خُطْبَةَ نَبِيِّ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلّمَ يُخْبِرُ جِبْرِيلَ أَوْ كَمَا قَال. ((صحيح البخاري باب علامات النبوة في الإسلام كتاب المناقب 3362))

Dari Abu ‘Utsman, ia berkata: “Telah diberitakan kepadaku bahwa Malaikat Jibril Alaihissallam datang kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan Ummu Salamah sedang bersama beliau. Maka, dia pun berbicara lantas berdiri, sehingga Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pun berkata kepada Ummu Salamah: ‘Siapakah ini?’ – atau seperti ucapan beliau – lantas Ummu Salamah pun berkata: ‘Ini adalah Dihyah’. Ummu Salamah berkata: ‘Demi Allah, sungguh aku mengira, ia adalah Dihyah, sampai aku mendengar khutbah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mengabarkan bahwa dia adalah Malaikat Jibril Alaihissallam‘.”[3]

Ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengirimkan surat-surat seruan memeluk Islam kepada para raja, kisra dan kaisar, yaitu pada akhir tahun ke enam hijriah, Dihyah termasuk salah satu delegasi yang ditugaskan. Adapun tugas yang diberikan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Dihyah, yaitu agar ia menyampaikan surat beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Hiraklius kaisar Romawi.

Dalam satu riwayat disebutkan:

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَـا أَنَّهُ أَخْبَرَهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَتَبَ إِلَى قَيْصَرَ يَدْعُوهُ إِلَى الْإِسْلَامِ وَبَعَثَ بِكِتَابِهِ إِلَيْهِ مَعَ دِحْيَةَ الْكَلْبِيِّ وَأَمَرَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلّمَ أَنْ يَدْفَعَهُ إِلَى عَظِيمِ بُصْرَى لِيَدْفَعَهُ إِلَى قَيْصَرَ ((صحيح البخاري كتاب الجهاد والسير باب دعاء النبي الناس إلى الإسلام))

Dari ‘Abdullah bin ‘Abbâs Radhiyallahu anhuma bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menulis surat kepada kaisar untuk mengajaknya masuk Islam. Beliau pun mengutus Dihyah al-Kalbi untuk menyampaikan suratnya. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallammemintanya supaya menyerahkan surat tersebut kepada penguasa kota Bushra, agar ia menyampaikannya kepada kaisar.[4]

Ibnu Katsir rahimahullah menyebutkan di dalam al-Bidayah wa an-Nihayah, sepulang dari menemui kaisar – dan Dihyah mendapatkan hadiah yang banyak dari kaisar – ketika ia telah sampai di daerah Hisma, ia dihadang oleh sekelompok orang dan mereka pun mengambil semua yang ada padanya. Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutus Zaid bin Haritsah Radhiyallahu anhu untuk memerangi mereka.[5]

Demikian, sekilas kisah Dihyah bin Khalîfah al-Kalbi Radhiyallahu anhu. Pada masa hidupnya, beliau tinggal di daerah Mizzah di Damaskus, dan beliau hidup hingga sampai masa kekhilafahan Mu’awiyah bin Abi Sufyan. Semoga keridhaan Allah Subhanahu wa Ta’ala senantiasa tercurahkan pada sahabat yang mulia ini. (Ustadz Ahmad Danil).

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 04/Tahun XII/1429H/2008M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl9 Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-761016]
_______
Footnote
[1]. Al-Ishâbah, Ibnu Hajar, hlm. 371. no 2474.
[2]. Thabaqât, Ibni Sa’ad, 4/249.
[3]. Shahîh al-Bukhâri, kitab al-Manâqib, Baab: ‘Alâmâtin-Nubuwwah fil-Islâm.
[4]. Shahîh al-Bukhâri, kitab al-Jihâd was-Siyar, Bab: Du’â’in-Nabiyyi an-Nâsa ilal Islâm.
[5]. Al-Bidayah wan-Nihayah, Ibnu Katsir, 6/242.

Sumber: https://almanhaj.or.id/3796-dihyah-bin-khalifah-al-kalbi-radhiyallahu-anhu-malaikat-jibril-menjelma-dalam-rupanya.html

Pembantu Kecil Rosululloh Anas bin Malik

Kisah Pelayan Rasulullah, Anas bin Malik

Nama lengkapnya Anas bin Malik bin an-Nadar bin Damdan bi Zaid bin Haram bin Jundub bin Amir binKhanam bin Adi bin Najar al-Khazraji al-Ansari Abu Hamzah al-Madani. Anas bin Malik termasuk kedalam golongan sahabat meskipun saat Rasulullah saw. hidup dia masih muda belia. Ketika Rasulullah saw. bearada di Madina, Anas bin Malik bertugas sebagai pembantu (khadim) Nabi SAW, oleh karena itu orang memanggilnya dengan khadim Rasul; Anas sendiri bangga dengan panggilan itu. [1]

Riwayat yang menjelaskan bagaimana Anas bisa menempati posisi sebagai khadim Rasul adalah ketika Rasul SAW hijrah ke Madinah dan menetap disana; Ibunda Anas, Ummu Sulaim al-Ansariyah (dari Anshar), kepada Rasulullah SAW di kala ia datang dari Mekah setelah perintah hijrah dari Allah SWT. Penduduk Madinah saat itu benar-benar menyambut kedatangan Rasulullah SAW., Termasuk Anas yang masih kecil dan Ibunya Ummu Sulaim. Ummu Sulaim telah menanamkan di hati buah hatinya rasa cinta terhadap Rasulullah SAW., Sehingaa dia tidak sabar untuk bertemu Rasulullah SAW.

Ayah Anas sempat menentang Ummu Sulaim memeluk agama Islam, namun tentangan dari ayah Anas tidak menggentarkan sedikitpun hati Ummu Sulaim dalam memeluk Islam sebagai sebuah kepercayaan yang mencerahkan peradaban manusia kala itu, agama samawi yang diajarkan Muhammad Rasulullah SAW. Ayah Anas dikabarkan meninggal dalam sebuah perselisihan ketika dia sedang berada di luar rumah, sehingga akhirnya Anas hidup sebagai seorang yatim.

Akhirnya tiba saat hijrahnya Rasulullah SAW dari Mekkah. Mendengar hal ini Anas dan Ummu Sulaim sangat bahagia seperti halnya apa yang dirasakan oleh penduduk Madinah lainnya yang telah memeluk Islam. Katika Rasulullah tiba di Madinah, penduduk berbondong-bondong menyambut beliau. Mereka memberikan hadiah kepada Rasulullah, sampai akhirnya sampailah giliran Anas dan Ummu Sulaim bertemu dengan beliau.

Ummu Sulaim berkata, "Ya Rasulullah, orang-orang Ansar baik pria maupun perempuan telah memberikan hadiahnya kepada tuan. Tapi saya tidak memiliki apa-apa untuk kado tuan kecuali anak saya ini. Maka ambillah dia melayani tuan untuk membantu apa yang tuan maukan. "Rasulullah SAW. pun menerima hadiah Ummu Sulaim dengan senang hati.

Dalam rumah Rasulullah SAW inilah Anas belajar dan menangkap perilaku Rasulullah SAW yang mulia. Anas menyaksikan perilaku Rasulullah SAW dan berinteraksi secara langsung dengannya. Hampir segala perilaku atau sikap Rasulullah SAW diperhatikan dan kemudian dipraktekkan olehnya. Abu Hurairah berkata, "Saya belum pernah melihat orang yang menyerupai sholatnya Rasulullah kecuali Ibn Ummu Sulaim (maksudnya Anas). Sealain itu, Ibnu Sirin berkata, "Anas adalah sahabat yang shalatnya paling bagus, baik di rumah maupun pada waktu Safar."

Anas bin Malik menyaksikan secara langsung bagaimana mulianya akhlak Rasulullah SAW dalam kehidupan sehari-hari. Anas pernah mengatakan, "Saya melayani Rasulullah SAW selama sepuluh tahun. Tidak pernah sekalipun Rasulullah SAW berkata: "Mengapa kamu buat begitu ..." jika saya melakukan sesuatu. Bila saya tidak melakukan sesuatu hal, Baginda tidak pernah beberkata: "Mengapa kamu tidak melakukannya ..." 
Menurut riwayat Abbu Bakar bin muhammad bin muslim Ubaidillah bin Andullah bin Syihal al-Qurasyi Az- Zuhri (51 H \ 670 M-124 H \ 742 M ), seorang ahli hadist, Anas bin Malik sendiri yang mengatakan bahwa ketika Rasulullah saw. hijrah ke Madinah, Anas berusia sepuluh tahun, dan ketika Rasulullah saw. wafat, usia Anas sudah mencapai dua puluh tahun. Ia di kenal dekat dengan Rasulullah saw. dan karenanya tidak mengherankan jika Anas memperoleh banyak kesempatan untuk menerima hadis dari Rasulullah saw. Selain itu, ia juga meriwayatkan sejumlah hadis dari para sahabat nabi, saperti Abu Bakar ra., Umar ra., Utsman ra, Ali ra., Dan lain-lain.

Dalam hal meriwayatkan hadis, Anas bin Malik menempati urutan ketiga dalam kelompok sahabat. Orang yang meriwayatkan hadis dari Anas bin Malik antara lain Ibnu Sirin, Abu Qatadah, dan Hasan Basri.

Anas sendiri termasuk sahabat yang kuat hafalannya dengan urutan sebagai berikut: 
1. Abu Hurairah 
2. Abdullah bin Umar bin Khattab 
3. Anas bin Malik 
4. Aisyah binti Umar Bakar 
5. Abdullah bin Abbas 
6. Jabir bin Abdullah al-Ansari (w. 74 H / 698 M) 
7. Abu Sa'id al Khudri (w. 84 H)

Anas bin Malik sudah pandai menulis ketika diserahkan ibunya kepada Nabi SAW, sehingga ia banyak menulis hadits. Dengan menurut riwayat yang di peroleh dari yasir Abdul Wahhab bin Hibbatullah dari Abdullahbin Ahmad dari Yazid Humahid at- Tawil Anas bin Malik. 
Ada berbagai versi riwayat tentang lamanya Anas melayani Rasullulah SAW. Riwayat dari Isla'il bin Ubaidullah, dari Abi Isa dari Mahmud bin Gilan, dari Abu Dawud, dari Abu Khaldat, mengatakan bahwa Anas bin Malik mengabdi kapada Rasullulah SAW selama 10 tahun. Riwayat lain menyebutkan bahwa melayani Rasullulah SAW selama 8 tahun, dan ada pula yang mengatakan 7 tahun.

Rasullulah SAW sangat besar perhatiannya kepada Anas dan Malik. 
Riwayat dari Ja'far al-Faryabi, dari Ibrahim bin Usman, dari Mukhalid bin Hasan, dari Hisyam bin Hasan, dari Hafsah, dari Anas sendiri, menceritakan bahwa ketika ibu Anas Ummu Sulaim al-Ansyariah menyerahkan anaknya kepada Raulullah SAW, ia mengharapkan agar Rasul berkenan mendoakan anaknya. Rasulullah mengabulkan permintaan itu, seraya memanjatkan doa, "Allahumma aksir malahu wa waladuhu wa adkilhu al-jannat," artinya, "Ya Allah, limpahkan harta dan anak keturunan yang banyak kepadanya (Anas) dan masukkanlah dalam surga." 
Dalam riwayat lain, doa yang dibacakan Rasul adalah, "Allahumma aksir malahu wa waladuhu wa bariklahu fihi" artinya, "Ya Allah limpahkanlah harta dan anak keturunan yang banyak kepadanya (Anas) dan berkatilah ia dengan harta dan anaknya itu."

Sebagai seorang pelayan Rasul SAW, Anas bin Malik sering menemani Rasulullah SAW ke medan perang. Diriwayatkan oleh Imam Bukhari, dari Musa dari Ishaq bin Ustman yang pernah menanyakan kepada anaknya, Musa bin Anas, katanya, "Berapa kali Anas mengikuti (peperangan) yang dipimpin Rasul?" Musa bin Anas menjawab bahwa perang yang diikuti Anas bersama Rasulullah SAW sebanyak delapan kali. 
Rasulullah SAW sangat menyayangi Anas bin Malik, ia bahkan memanggil Anas dengan pangilan kasih sayang, Unais (yang dalam bahasa Arab berarti suatu pengakuan pribadi-Anasku). Terkadang ia juga memanggil: Anakku.

Rasulullah sering memberikat nasihat-nasihat kepadanya. Seperti nasihatnya kepada Anas berikut ini, "Anakku, bila kau mampu berada di pagi dan sore hari tanpa ada dengki di hatimu pada siapapun, maka lakukanla! Anakku, yang demikian adalah termasuk sunnahku. Barangsiapa menghidupkan sunnahku, maka ia telah mencintaiku. Barangsiapa mencintaiku, maka ia akan berada di surga bersamaku. Anakku, jika kau masuk ke dalam rumah, ucapkanlah salam karena itu akan membawa keberkahan bagimu dan juga bagi penghuni rumahmu. " 
Berkat dekatnya Anas dengan Rasululah dan doa beliau yang dikabulkan Allah, Anas memperoleh keberuntungan karena ia diberitakan memiliki dua bidang kebun yang subur yang dapat di panen dua kali dalam setahun.

Berkat doa Rasulullah pula, Allah juga memberikan nikmat lain kepada Anas berupa anak keturunan yang banyak. Ada riwayat yang menyebutkan bahwa Anas memiliki cucu sebanyak 115 orang. Riwayat lain menyebutkan bahwa Anas dikaruniai anak sebanyak 82 orang, terdiri atas 80 orang laki-laki dan 2 orang perempuan.

Namun, tidak diperoleh data yang pasti tentang ibu para anaknya yang banyak itu, apakah Anas memiliki istri yang banyak atau sering kali menikah. Namun, yang pasti, kekayaan dan keturunan yang banyak itu tidak menyebabkan ia lupa mengabdi kepada Tuhan. Ia tetap memperbanyak ibadahnya, seperti diungkapkan Abu Hurairah, "Saya tidak meyaksikan seseorang yang salatnya menyerupai salat Rasululah SAW, kecuali putra Ummu Sulaim (Anas)."

Anas memiliki seorang putra yang terkenal dalam studi hadis dan hukum Islam, yakni Malik bin Anas, pendiri mazhab Maliki di Madinah. Sama seperti ayahnya, Malik bin Anas juga berkecimpung di dunia hadis. Salah satu karyanya adalah al-Muwattha '.

Riwayat lain menggambarkan bahwa Anas bin Malik ibadahnya baik. Riwayat lain disampaikan oleh Ja'far dari Sabit yang menceritakan secara singkat tentang keuntungan dari Anas bin Malik. Pada suatu ketika di musim kemarau, Sabit tengah bersama Anas, tiba-tiba seorang pembantu Anas menghampiri mereka dan berkata, "Hai Abu Hamzah (gelar bagi Anas), betapa kering bumi kita." Anas bin Malik segera berwudhu, kemudian shalat dua rakaat dan berdoa ke hadirat Allah. Tidak lama sesudah itu, konon publik hitam muncul di langit, lalu hujan pun turun. Setelah hujan reda, Anas mengajak para kerabatnya untuk menyaksikan langit yang sudah terang dan mengamati tanah yang sudah lembab disiram air hujan.

Anas memiliki favorit memanah, dan ia sering pergi memanah bersama anak-anaknya. Anas banyak menempatkan bidikannya pada sasaran yang tepat. Kelebihan-kelebihan yang ada pada Anas ini membuat orang hormat kepadanya. 
Di bidang pemerintahan, Anas termasuk orang yang terpandang. Ia pernah mendapat kehormatan untuk mengurusi administrasi daerah Bahrain. Ketika Abu Bakar diangkat menjadi khalifah, Anas yang usianya relatif masih muda dipilih menjadi petugas di sana. Berkat kerja keras dan kecakapannya dalam soal tulis-menulis (administrasi), Anas dapat mengelola daerah Bahrain dengan sebaik-baiknya.

Anas wafat di kota Basra dan ia merupakan sahabat terakhir yang meninggal di sana. Ia dimakamkan di At-Taffi, suatu tempat yang dihormati bangsa Arab di Irak yang terletak di sekitar 15 km dari Basra. Tidak diketahui secara pasti tahun wafat Anas dan berapa usianya yang sesungguhnya. Sebagian riwayat menyebutkan bahwa usia Anas adalah 107 tujuh tahun, sementara riwayat lain menyebutkan 95 tahun. Ada pula riwayat yang menyebutkan 91 tahun, 92, dan 93 tahun.

Saat terakhir sakit, dia berpesan kepada keluarganya, "Ajarkan aku kalimat La ilaha illahu, Muhammadun Rasulullah." Dia terus mengucapkan kalimat tersebut sampai pada akhirnya dia meninggal dunia.

Saat wafatnya Anas, Muwarriq mengatakan, "Telah hilang separuh ilmu. Jika ada orang suka memperturutkan kesenangannya bila berselisih dengan kami, kami berkata kepadanya, 'Marilah menghadap kepada orang yang pernah mendengar dari Rasululah SAW' "

Anas sebagai sahabat yang sangat mencintai Rasulullah sampai akhir hayatnya adalah salah satu sahabat yang patut kita teladani kesetiaannya. Anas senantiasa berkeinginan untuk berjumpa dengan Rasulullah saat di akhirat. Anas sering berkata, "Aku berharap bisa bertemu dengan Rasulullah Saw pada Hari Kiamat sehingga aku dapat berkata kepada beliau, 'Ya Rasulullah, inilah pembantu kecilmu, Unais.'" 
Anas Bin Malik dalam Ilmu Hadits

Anas adalah seorang sahabat yang keahliannya dalam bidang hadits tidak dipertanyakan lagi. Dalam kitab Mausu'ah fil Kutub at-tis'ah, tercatat Anas bin Malik meriwayatkan 4.964 hadis dengan perulangan yang tersebar di setiap kitab hadis yang 9: 
• Sahih Bukhari (829 hadis). 
• Sahih Muslim (485 hadis) 
• Sunan at-Tirmidzi (367 hadis). 
• Sunan Abi Daud. (255 hadis). 
• Sunan an-Nasa'i (367 hadis). 
• Sunan Ibni Majah. (280 hadis). 
• Musnah Ahmad (2189 hadis). 
• Muwattha '(35 hadis). 
• Sunan ad-Darimi (sisanya pada sunan ad-Darimi).

Sebagian dari hadits tersebut ia dapatkan langsung dari Rasulullah dan sebagian yang lain diriwayatkan dari sahabat lainnya. Anas pernah mengatakan, "Ambillah (Al Qur'an dan As Sunnah) dariku, karena saya mengambilnya langsung dari Rasulullah, dan Rasulullah dari Allah. Kamu tidak akan mendapatkan kabar yang lebih kuat, kecuali dariku ".

Referensi: 
http: //ibrahimstwo0@gmail.com 
http://www.ppnuruliman.com/.../147-anas-bin-malik-sang-pemban... 
http://id.wikipedia.org/wiki/Anas_bin_Malik
Bio Anas dalam Thabaqaat Ibn Sa'ad 7/10 dan Tahdzib 3/319

Kisah Ibnu Abbas kaitan Gus Nuril

Beliau adalah seorang SahabatNabi, dan merupakan anak dari Abbas bin Abdul-Muththalib, paman dari Rasulullah Muhammad saw. Dikenal juga dengan nama lain yaitu Ibnu Abbas (619 - Thaif, 687/68H). Ibnu Abbas merupakan salah satu sahabat yang berpengetahuan luas, dan banyak hadits shahih yang diriwayatkan melalui Ibnu Abbas, serta beliau juga menurunkan seluruh Khalifah dari Bani Abbasiyah.

Dia merupakan anak dari keluarga yang kaya dari perdagangan bernama Abbas bin Abdul-Muththalib, maka dari itu dia dipanggil Ibnu Abbas, anak dari Abbas. Ibu dari Ibnu Abbas adalah Ummu al-Fadl Lubaba, yang merupakan wanita kedua yang masuk Islam, melakukan hal yang sama dengan teman dekatnya Khadijah binti Khuwailid, istri Rasululah. Ayah dari Ibnu Abbas dan ayah dari Muhammad merupakan anak dari orang yang sama, Syaibah bin Hâsyim, lebih dikenal dengan nama Abdul-Muththalib. Ayah orang itu adalah Hasyim bin Abdul manaf, penerus dari Bani Hasyim klan dari Quraisy yang terkenal di Mekkah. Ibnu Abbas juga memiliki seorang saudara bernama Fadl bin Abbas.

1. Dialog Dengan Rasulullah

"Ya Ghulam, maukah kau mendengar beberapa kalimat yang sangat berguna?" tanya Rasulullah suatu ketika pada seorang pemuda kecil. "Jagalah (ajaran-ajaran) Allah, niscaya kamu akan mendapatkan-Nya selalu menjagamu. Jagalah (larangan-larangan) Allah, maka kamu akan mendapati-Nya selalu dekat di hadapanmu."

Pemuda kecil itu termangu di depan Rasulullah. Ia memusatkan perhatian pada setiap patah kata yang keluar dari bibir manusia paling mulia itu. "Kenalilah Allah dalam sukamu, maka Allah akan mengenalimu dalam duka. Bila kamu meminta, mintalah kepada-Nya. Jika kamu butuh pertolongan, memohonlah kepada-Nya. Semua hal telah selesai ditulis."

Pemuda beruntung itu adalah Abdullah bin Abbas. Ibnu Abbas, begitu ia biasa dipanggil, dalam sehari itu ia menerima banyak ilmu. Bak kata pepatah, sekali dayung tiga empat pulau terlampaui, wejangan Rasulullah saat itu telah memenuhi rasa ingin tahunya. Pelajaran akidah, ilmu dan amal sekaligus ia terima dalam sekali pertemuan.

2. Kedekatannya dengan Rasulullah saw.

Keakraban dengan Rasulullah sejak kecil membuat Ibnu Abbas tumbuh menjadi seorang lelaki berkepribadian luar biasa. Keikhlasannya seluas padang pasir tempatnya tinggal. Keberanian dan gairah jihadnya sepanas sinar matahari gurun. Kasihnya seperti oase di tengah sahara.

Hidup bersama Rasulullah benar-benar telah membentuk karakter dan sifatnya. Suatu ketika, benaknya dipenuhi rasa ingin tahu yang besar tentang bagaimana cara Rasulullah shalat. Malam itu, ia sengaja menginap di rumah bibinya, Maimunah binti Al-Harits, istri Rasulullah.

Sepanjang malam ia berjaga, sampai terdengar olehnya Rasulullah bangun untuk menunaikan shalat. Ia segera mengambil air untuk bekal wudhu Rasulullah. Di tengah malam buta itu, betapa terkejutnya Rasulullah menemukan Abdullah bin Abbas masih terjaga dan menyediakan air wudhu untuknya.

3. Faham Agama dan Tafsir Berkat Do'a Nabi saw.

Rasa bangga dan kagum menyatu dalam dada Rasulullah. Beliau menghampiri Ibnu Abbas, dan dengan lembut dielusnya kepala bocah belia itu. 

اللهم فقهه فى الذين و علمه في التأويل

(Allaahumma faqqihhu fid-diin- wa 'allimhu fit-ta'wiil)

"Ya Allah, berikan dia keahlian dalam agama-Mu, dan ajarilah ia tafsir kitab-Mu." Demikian doa Rasulullah.

Abdullah bin Abbas lahir tiga tahun sebelum Rasulullah hijrah. Saat Rasulullah wafat, ia masih sangat belia, 13 tahun umurnya. Semasa hidupnya, Rasulullah benar-benar akrab dengan mereka yang hampir seusia dengan Abdullah bin Abbas. Ada Ali bin Abi Thalib, Usamah bin Zaid dan sahabat-sahabat kecil lainnya.

Saat Rasulullah wafat, Ibnu Abbas benar-benar merasa kehilangan. Sosok yang menjadi panutannya, kini telah tiada. Walau demikian, ia tak mau berlama-lama tenggelam dalam kedukaan. Ibnu Abbas segera bangkit dari kedukaan. Meski Rasulullah telah berpulang, semangat jihad tak boleh berkurang. Maka ia pun mulai melakukan perburuan ilmu.

Didatanginya para sahabat senior. Ia bertanya pada mereka tentang apa saja yang perlu ditimbanya. Tak hanya itu, ia juga mengajak sahabat-sahabat yang seusia dengannya untuk belajar pula. Tapi sayang, tak banyak yang mengikuti jejak Ibnu Abbas. Mereka merasa tidak yakin, apakah para sahabat senior itu mau memerhatikan mereka yang masih anak-anak.

4. Gemar Memburu Ilmu

Walau demikian, Ibnu Abbas tak patah arang. Ia ketuk satu pintu dan berpindah ke pintu lain, dari rumah-rumah para sahabat Rasulullah. Tak jarang ia harus tidur di depan rumah mereka, karena para sahabat tengah istirahat. Namun betapa terkejutnya mereka begitu melihat Ibnu Abbas tidur di depan pintu rumah.

"Wahai keponakan Rasulullah, kenapa tidak kami saja yang menemuimu?" kata para sahabat yang menemukan Ibnu Abbas di depan rumah mereka.

"Tidak, akulah yang mesti mendatangi anda," jawabnya.

Demikianlah kehidupan Ibnu Abbas, hingga kelak ia benar-benar menjadi seorang pemuda dengan ilmu dan pengetahuan yang tinggi. Karena tingginya dan tak berimbang dengan usianya, ada yang bertanya tentangnya. "Bagaimana anda mendapatkan ilmu ini, wahai Ibnu Abbas?"

"Dengan lidah dan gemar bertanya, dengan akal yang suka berpikir," demikian jawabnya.

Karena ketinggian ilmunya itulah, ia kerap menjadi kawan dan lawan diskusi para sahabat senior. Umar bin Al-Kathab misalnya, selalu memanggil Ibnu Abbas untuk duduk bersama dalam sebuah musyawarah. Pendapat-pendapatnya selalu didengar karena keilmuannya. Sampai-sampai Amirul Mukminin kedua itu memberi julukan kepada Ibnu Abbas sebagai "pemuda tua". Doa Rasulullah yang meminta kepada Allah agar menjadikan Ibnu Abbas sebagai seorang yang mengerti perkara agama telah terwujud kiranya. Ibnu Abbas adalah tempat bertanya karena kegemarannya bertanya. Ibnu Abbas tempat mencari ilmu karena kegemarannya terhadap ilmu.

5. Pernah 2 Kali Melihat Jibril

Ibnu Abbas pernah melihat Malaikat Jibril dalam dua kesempatan, Ibnu Abbas berkata:

Aku bersama bapakku di sisi Rasulullah dan di samping Rasulullah ada seorang laki-laki yang membisikinya. Maka seakan-akan beliau berpaling dari bapakku. Kemudian kami beranjak dari sisi Rasulullah seraya bapakku berkata, Wahai anakku, tahukah engkau kenapa anak laki-laki pamanmu (Rasulullah) seperti berpaling (menghindari aku)? Maka aku menjawab, Wahai bapakku, sesungguhnya di sisi Rasulullah ada seorang laki-laki yang      membisikinya. Ibnu Abbas berkata, Kemudian kami kembali ke hadapan Rasulullah lantas bapakku berkata, Ya Rasulullah aku berkata kepada Abdullah seperti ini dan seperti itu, kemudian Abdullah menceritakan kepadaku bahwa ada seorang laki-laki di sampingmu yang berbisik-bisik kepadamu. Apakah benar memang ada seseorang di sampingmu? Rasulullah balik bertanya, Apakah engkau melihatnya ya Abdullah? Kami menjawab, Ya. Rasulullah bersabda, Sesungguhnya ia adalah Jibril alaihiwassalam. Dialah yang menyibukkan kami dari kamu sekalian. [1]

Abbas mengutus Ibnu Abbas kepada Rasulullah dalam suatu keperluan, dan Ibnu Abbas menjumpai Rasulullah bersama seorang laki-laki. Maka tatkala ia kembali dan tidak bicara kepada Rasulullah, maka Rasulullah bersabda: Engkau melihatnya ? Abdullah (Ibnu Abbas) menjawab, Ya, Rasulullah bersabda, Ia adalah Jibril. Iangatlah sesungguhnya ia tidak akan mati sehingga hilang pandangannya (buta) dan diberi (didatangkan ilmu). [2].

Ia pernah di doakan Nabi dua kali, saat didekap beliau dan saat ia melayani Rasulullah dengan mengambil air wudlu, Rasululah berdoa, Ya Allah fahamkanlah (faqihkanlah) ia. [3]. 

Di usianya yang ke-71 tahun, diriwayat lain 81 tahun Allah swt. memanggilnya. Saat itu umat Islam benar-benar kehilangan seorang dengan kemampuan dan pengetahuan yang luar biasa. "Hari ini telah wafat ulama umat," kata Abu Hurairah menggambarkan rasa kehilangannya.  Ibnu Jubair menceritakan, bahwa Ibnu Abbas wafat di Thaif.

Semoga bermanfaat.

Ciri ciri Ulul Albab

Hanya satu nilai dasar, yang menjadi dasar pijakan universal untuk menentukan benar atau salah yaitu Allah, Allah adalah kebenaran maka kebenaran hanya datang dari Allah

Sabtu, 07 November 2009

Istilah Ulul Albab Dalam Al-Qur'an

Ulul Albab adalah istilah khusus yang dipakai al-Qur’an untuk menyebut sekelompok manusia pilihan semacam intelektual. Istilah Ulul Albab 16 kali disebut dalam al-Qur’an. Namun, sejauh itu al-Qur’an sendiri tidak menjelaskan secara definitive konsepnya tentang ulul albab. Ia hanya menyebutkan tanda-tandanya saja.
Ciri-ciri ulul albab yang disebut dalam al-Qur’an adalah:

* Pertama, bersungguh-sungguh menggali ilmu pengetahuan. Menyelidiki dan mengamati semua rahasia wahyu (al-Qur’an maupun gejala-gejala alam), menangkap hukum-hukum yang tersirat di dalamnya, kemudian menerapkannya dalam masyarakat demi kebaikan bersama. "Sesungghnya, dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi ulul albab" (QS, Ali Imran, 190).

* Kedua, selalu berpegang pada kebaikan dan keadilan. Ulul Albab mampu memisahkan yang baik dari yang jahat, untuk kemudian memilih yang baik. Selalu berpegang dan mempertahankan kebaikan tersebut walau sendirian dan walau kejahatan didukung banyak orang. "Tidak sama yang buruk (jahat) dengan baik (benar), meskipun kuantitas yang jahat mengagumkan dirimu. Bertaqwalah hai ulul albab, agar kamu beruntung" (QS, Al-Maidah, 100

* Ketiga, teliti dan kritis dalam menerima informasi, teori, proporsisi ataupun dalil yang dikemukakan orang lain. Bagai sosok mujtahid, ulul albab tidak mau taqlid pada orang lain, sehingga ia tidak mau menelan mentah-mentah apa yang diberikan orang lain.

* Keempat, sanggup mengambil pelajaran dari sejarah umat terdahulu. Sejarah adalah penafsiran nyata dari suatu bentuk kehidupan.

* Kelima ulul Albab senansiasa "membakar" singgasana Allah dengan munajadnya ketika malam telah sunyi. Menggoncang Arasy-Nya dengan segala rintihan, permohonan ampun, dan pengaduan segala derita serta kebobrokan moral manusia di muka bumi.

* Keenam, tidak takut kepada siapapun, kecuali Allah semata. Sadar bahwa semua perbuatan manusia akan dimintai pertanggungan jawab, dengan bekal ilmunya, ulul albab tidak mau berbuat semena-mena.

Terdapat juga informasi dalam Al-Qur'an mengenai hal ini dalam:
(QS, Ar-Rahman : 33 )
(QS, Az-Zumar : 18 )
(QS, Az-Zumar : 9 )

Senin, 26 Juni 2017

Gus nuril

Rahasia Di Balik Rahasia Ilmu Semesta

 18/11/2013 Admin

Sahabat Bilal bin Rabbah adalah bekas seorang budak hitam yang dibebaskan oleh Sayidina Abubakar dari bekas tuannya Muawiyah Abu Sofyan. Ketulusan hatinya dan keimanannya ternyata dia di mulyakan Allah disisi nabinya, jadilah suara emasnya menjadi keajaiban dunia. Ia konon Neil Amstrong saat di bulan sempat merubuhkan suara adzan yang demaikian mendayu dayu sehingga menggerakan hati sang astronot itu masuk Islam (?). Pagi itu dia gelisah, biasanya sebelum adzan di kumandangkan olehnya, dia sudah menemukan Rosul di Masjid Nabawi, sudah iktikaf dan solat beberapa kali. Namun kali ini adzan sudah hampir habis dia tidak menemukan sosok jungannya. Bahkan setelah selesai adzan subuhpun Rosul belum muncul untuk mengimami sholat berjamaah. Setelah ditunggu bersama sahabat yang lain seperti Sayidina Abu bakar,

Sang pemilik suara emas itu mengetuk beberapa kali rumah Rosul yang tidak begitu jauh dari Masjid Nabawi. Selang beberapa saat Rosul membukakan pintu dan terlihat wajah nabi yang basah dengan air mata dan sembab. Sahabat Bilal sangat khawatir karena melihat tandannya Nabi yang dimulyakan Allah ini pasti sudah menangis semalamam. "Ada apa ya Rosulullah" tanya Sang Bilal sangat khawatir, dia tidak pernah melihat Rosul berperilaku demikian, saat anak kesayangannya dan sahabat - sahabat yang dicintainya lahir sebagai syuhadapun belaiau tidak menangis berlebihan. Paling menitikan udara mata di pipi dan buru - buru di hapusnya.

Kemudian Rosulullah mengatakan: aku menerima wahyu yang berhubungan dengan ilmu dan alam ini wahai sahabat, dan atas kandungan wahyu itu bersama dahsyatnya, lalu Rosul membacakan wahyu itu: "Bismillahirohman nirrohim.Inna fi kholqis samawati wal ardhi, wah tilafi laili wan nahar, la ayati Li ulil albab Aladzina yadkurunallaha qiyaman wa ku udzan wa ala junubihim, wa yatafakaruna fi kholqis samawati wal ardhi.Robbana ma kholakta hadza bathila subkhanaka fakina adzaban narr "

Sayidiana Bilal, mendenagar wahyu yang diab buta Rosul masih belum mengerti, kenapa dengan wahyu ini buat sayang aja biasa - biasa saja. Yang di terjemahkan bebas kurang lebih bunyinya begini: "Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi dan pergantian siang dan malam, menjadi ayat dan tanda bagi hamba Aallah yang berpredikat ulil Albab (cerdas dan berilmu). Yaitu hamba yang senantiasa berfikir tentang dan ciptaan Tuhannya baik dalam keadaan baik dalam keadaan berdiri, duduk maupun lembur. Lalu temukan hakekat dan ma'rifat itu serunya bibirnya mengucap "Sungguh segala ciptaan Mu Allah tidak ada yang sia sia". Lalu kesia - siaannya berfikir selama ini ditutup dengan doa Ya Roob ampuni dan lindungi aku dari api Neraka " 

Asror (Rahasia Ilmu)
Saudaraku, disini saya mulai mengenal Sayidina Abbas Paman Rosulullah, memohon kepada Rosul untuk didoakan agar mengenal sir dan asror nya ayat Al Qur'an. Maka dengan doa Allahuma faqih hu fi dieni wa alamahu ta'wila, dan dengan doa ini tidak seorangpun mushonef berani menulis buku tanpa bertanya kepada Sayidiana Abbas dan tidak ada seorang Mufasir berani menafsirkan Al Qur'an tanpa bertanya kepada beliau. Karena ternyata kandungan ayat - ayat Al Qur'an itu tidak bisa di jamah dengan artikulasi keilmuan biasa. Seseorang tidak mungkin mampu menafsirkan ayat Al Qur'an. Kandungan ilmu yang ada dalam Al Qur'an itu tidak akan mampu ditulis manusia, kendatipun menggunakan 7 benua sebagai kertasnya dan tujuh lautan samudera sebagai tintannya. Niscaya tidak akan mampu.

Membatasi tafsir akan ayat Allah ini dan terlalu membelenggu maknanya, hanya akan merendahkan kandungan Al Qur'an. Karena memang rahasia ayatnya hanya Nabi yang tercintalah yang mampu menafsirkannya. Karena memang Nabi adalah lagu berita, jadilah logos dan ketuhan dalam menyapaikan kalam - kalam sucinya. Sementara itu kita dan para ulama setelahnya, hanya bisa meraba dari tafsir yang ada dan menambah atau menyesuaikan dengan kondisi kekiniannya.

Selama banyak diperdebatkan oleh kalangan ulama yang memegang teguh atas tafsir nash - nash Al Qur'an berdasarkan tafsir kitab - kitab kuning (kuno) dan ada yang mencaba kembali membuka pintu istihaj. Dan harus mengaku semenjak dibangun dominasi Suni atas mu'tazilah perkemabangan ilmu tafsir di dunia Islam suka kemandegan. Kota - kota besar ke ilmuan seperti Basrah dan Iran serata Mesir bahkan jasirah Arab yang lain, yang dulu pernah menjadi imam - imam besar seperti Imam Malik, Imam Syafi'i atau Imam Ibnu Hambal dan Imam Ibnu Abu Hanifah menerapkan beku. Apalagi setelah dinasti abbasiyah dari kasulthanan Turki Othoman di hancur leburkan oleh Inggris dan Perancis atas bantuan anak kandung Khawarij, yang biasa dikenal denagan sebutan Wahabiyah.

Pengembaraan ilmu sebagaiamana yang dialakukan oleh Imam Syafi'i sudah jarang terjadi. Khasanah - khasanah madrasah ke ilmuan sebegaimana yang dibuka oleh Imam Abu Hanifah juga jarang muncul. Tulisan ini tidak atau belum membahas soal ini, pelaut untuk menuju proses ilmuan wahyu yang di turunkan Allah kepada Rosul, jadi sahabat Bilal heran melihat bekas air mata Nabi yang demikian menyiratkan dan tiada. Semoga kesepian dan kebahagiaan ini bisa diasingkan oleh kaum musrik. Muhammad muhammad muhammad muhammad muhammad muhammad muhammad muhammad muhammad muhammad muhammad muhammad muhammad muhammad muhammad muhammad muhammad muhammad muhammad. Bahkan ditinggal oleh sang istri tercinta Siti Hadijah dan pamannya Abu Tholib, Rosul tidak menampakan wajah seperti itu.

Bagi Nabi "inna fi kholqis samawati wal ardhi" memiliki arti yang demikian dahsyat. Penciptaan bumi yang di kemukakan Allah ini kelak akan melahirkan ilmu bumi dan astronomi dan ilmu - ilmu yang lain, mulai pertambangan, pertanian sampai ilmu - ilmu yang belum terkuak waktu itu. Allah sudah menunjukkannya dalam bentuk kalam, tersirat dan tersurat bahkan rahasia - rahasianya. Betapa Allah mengemas bubur panas bumi dengan tingkat panas yang luar biasa itu dengan bumi yang berlapis - lapis sehingga tujuh lapisan di dinginkan dengan lautan yang hemat tujuh samudera diatasnya sehingga sedang pemanasan dari matahari yang menjadi poros bumi berputar, melahirkan uap yang nanti akan turun Hujan di bawahnya yang berisi tanah, yang dari sana menumbuhkan berbagai macam kebutuhan manusia. Dari tanah yang sama akan melahirkan bermacam buah - buahan. Mendinginkan tanah dan menumbuhkan kehaidupan bahkan dengan jelas Allah mempusakai dengan gunung - gunung, agar tidak goncang karena perputaran bumi itu sendiri dan kapan berputar mengitari Matahari. Subkhanallah